Selasa, 25 Desember 2012

MY LECTURER, MY LOVE


“Kriiing . . .kriiing ....kriiiing!!!”
Warning alert yang membangunkan Odelia dari tidurnya semalam. Gadis berusia 22 tahun itupun tersentak kaget melihat waktu yang sudah menunjukan pukul 07.30.
“astagaa ...., mampus!!! Saya bisa telat ini!” odel langsung bergegas dari tempat tidur ke kamar mandi. Hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, odel pun selesai berpakaian dan siap untuk berangkat ke kampus.
Namun, seusai odel berpamitan pada orang tuanya dan ketika keluar rumah, tiba-tiba langkah odel terhenti.
“Ya aampun sa lupaa ...!” odel  menepuk jidatnya.
“Hari ini kan ada kuis dari dosen tampan...?, waduuh!!! Tadi malam sa ketiduran lagi...! hmm...mau jawab apa nanti kalau dosen itu nanya???, Nda...nda...! ini nda boleh terjadi, saya nda boleh terlihat stupid dihadapannya! Tapi gimana  caranya...? saya kan belum siapkan materi....! Ya ampuun...! oh.. God help me please....!!!” ucap odel berharap Tuhan menolongnya hari itu.
Itulah odel yang tidak pernah mau ketinggalan materi bila hari selasa dan kamis. Bahkan, ia selalu datang ke kampus lebih awal dari waktu yang terjadwal. Dan sehari sebelum kedua hari itu, biasanya odel selalu menyiapkan segala sesuatunya termasuk materi-materi yang akan dibahas pada kedua hari tersebut. bagaimana tidak, kedua hari itu adalah hari yang selalu membuat perasaan gadis berkerudung itu berbunga-bunga. Padahal hampir semua mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat   tahu kalau dosen yang mengajar mata kuliah Generic Kompetention itu adalah salah satu dosen yang terkenal dengan kekileran dan ketegasannya dalam memberikan nilai pada mahasiswa. Tapi dilain pihak, dosen yang akrab dipanggil Pak Boy juga terkenal bijak, tampan dan cerdas. Itulah yang membuat odel sangat mengagumi sosok pak Boy. lebih tepatnya, jatuh cinta pada dosen yang berusia 30 tahun dan masih lajang itu, walaupun terkadang sikapnya ketus pada odel. Tapi, bagi odel pak Boy “is Perfect”. Sampai-sampai odel sangat termotivasi belajar dengan giat, selain untuk menaklukan hati pak Boy, odel juga ingin mewujudkan obsesinya untuk segera menyelesaikan study dan mengaejar beasiswa S2 ke jepang.
Odel tiba di kampus tepat pukul 08.00, semua teman-temannya sudah berada dalam ruangan, tapi untungnya pak Boy masih berada dalam ruangan jurusan untuk mengambil absen. Odelpun berlari sekencangnya demi mendahului pak Boy. Sampailah ia dalam ruangan dan segera mengambil kursi, lantas duduk.
“huuuft...alhamdulillah!” kata odel, dengan nafas terengah-engah, seakan baru lolos dari kejaran harimau. 2 menit kemudian pak Boy tiba dalam ruangan.
“selamat pagi semua....!” sapa pak Boy kepada seluruh mahasiswa/i.
“kalian sudah tau kan kalau hari ini kita akan kuis?” lanjut pak Boy.
“iyaa pak...!” jawab para mahasiswa/i.
Tanpa basa-basi, pak Boy langsung menunjuk irfan yang duduk tepat disamping odel.
“coba jelaskan, apa pentingnya Generic Kompetention bagi kamu sebagai seorang tokoh public health?” tanya pak boy.
”bagi saya sebagai seorang tokoh public health, generik kompetensi sangat dibutuhkan untuk melatih kita, bagaimana nantinya bila berhadapan langsung dengan masyarakat. Dan juga melatih kita untuk berkompetensi dimasyarakat nanti”. Jawab irfan dengan percaya diri.
“hmmm...!” odelia azzahra putri! Bagaimana menurutmu odel...? tanya pak Boy lagi secara tiba-tiba.
“hmm..., ee...m menurut saya pak?” tanya odel balik.
“iya, menurut kamu, memang ada lagi yang punya nama odel diruangan ini? Ayo cepat jawab. Tegas pak Boy.”
“emmmm, yah, sama pak seperti yang dikatakan irfan tadi....!” jawab odel dengan  grogi.
“saya tanya menurut kamu, bukan menurut irfan!” sentak pak Boy ketus dengan nada suara yang tinggi.
“saya....!” odel menoleh kekiri dan kekanan.
“maaf pak!! Saya belum menguasai materi bapak hari ini.” Rasa penyesalan diraut wajah odel.
“oke, kalau begitu untuk hari ini kamu tidak perlu mengikuti mata kuliah saya.” Pak Boy mengulurkan tangannya menunjuk ke arah pintu keluar.
Odel bergegas keluar dari ruangan, dan menuju keruangan sebelah.
“oke, untuk hari ini sampai disini dulu pertemuan kita, pesan saya untuk pertemuan berikutnya dan seterusnya, saya tidak ingin kejadian tadi berulang kembali, sebelum saya masuk ruangan, kalian sudah harus menguasai materi. Mengerti???.”
“Iya pak!!!” jawab para mahasiswa/i.
Ana melewati ruangan sebelah, disitu ia mendapati odelia duduk termenung.
“del...!” ana mengambil kursi disamping odel lantas duduk.
“ko kenapa, kok bengong?, ko masih terbawa suasana tadi ka? Ya sudahlah del...! ko lupakanmi masalah tadi!” odel menatap sahabatnya dengan senyum masam.
“udah!!! Anggap saja tadi nda pernah terjadi, lebih bae ko belajar saja supaya ko bisa tunjukan sama bapak, kalau ko itu sebenarnya tidak stupid”. Hibur ana.
“Emang pak Boy tadi bilang begitu ka?” Sergah odel.
“hmmm... hehe...!!! nda ji...,bercanda! Serius skali bela...!” canda ana.
“ya udah, kita kekantin saja marimi”. Sambil menarik tangan odel.
“eh del, by the way, tumben ko terlambat tadi? Dan tumben juga ko nda siap materi?, humm...! biasanya kaaan, kaumi yang paling semangat kalau mata kuliah pak Boy!” canda ana lagi.
“iya an, tadi malam sa ketiduran ciank...jadi sa nda sempatmi cari materi!” Terang odel, seakan menyesali perbuatannya.
“ough...! bogitu ka...! tapi del, kayanya cuman kau deh mahasiswi yang fans skali sama tu orang, padahal kan hampir semua mahasiswa  pedoko skali sama itu bapak!!!” ko suka ka sama itu bapak?” ana curiga.
“nda jiiii...! sa hanya ingin lulus mata kuliahnya itu bapak dengan nilai yang bagus...ko taumi to..sa pengen secepatnya sarjana, lagian sekarang saya lagi ajukan proposal untuk beasiswa. Jadi sa harus giat belajar.” Terang odel dengan penuh pengharapan bakal lulus secepatnya dan diterima disalah satu universitas di jepang nanti. Yap, itu adalah impian odel sejak SMA sampai sekarang.
“dengan bibir menggurat senyum, odel juga memberitahu sahabat baiknya itu, kalau salah satu  alasan yang buat dia bersemangat seperti sekarang ini adalah karena adanya pak Boy.”
“hmm, sa bilang juga apa...? ko suka to sama itu bapak!” ana membuat wajah mungil odel merah.
“iyaaa, terserahmi..., yang penting ko senang...! tapi sa kastau ko nah,, jangan ko terlalu berharap kasian sama itu dosen tampan plus sangar itu!” tandas ana.
“maksudmu apa ka itu?? Berharap apa...???” sangkal odel dengan wajah merah.
“allllaaah nda usahmi ko menyangkal lagi.....!” ana menyergah.
“sa tau ji kau sayang....., ko nda pernah suka orang seperti ini!!, eh....tapi ada kabar buruk nih, dengar-dengar to, kalau 5 hari lagi dosen kesayanganmu itu mau merridmi, katanya sih dia dijodohkan.” Ujar ana dengan raut wajah serius.
“what??? Ko tau dari mana an?” odel tercekat.
“sa nda sengaja dengar dari para dosen waktu sa bawa tugas akhirku di jurusan.” Odel termenung memandangi sahabatnya, seakan mengharap ada riak gurauan disinar matanya. Ana bersungguh-sungguh, kesakitan dihati odel.
“del..., jangan ko putus asa begitu....!, masih banyak ji ikan dilaut..., Lagian untuk apa juga ko harapkan dosen sangar end kiler itu kasian???, kalau perlu to, nanti sa kenalakan ko sama teman-temanku yang kece-kece...!, sudahmi...jangan terlalu dipikirkan!” bujuk gadis tomboy itu.
“mendingan to, ko fokus saja sama skripsi dan proposal beasiswamu itu..., sa doakan, semoga proposalmu diterima dan bisa kuliah di Jepang, biar Pak Boy nanti menyesal nda pilih kau jadi istrinya.” Hibur ana.
“ kau itu dih, paling jago bikin sa GR...!” tawa odel lirih.
“biarmi..., yang penting ko bisa tertawa lagi...!, sudahmi, kita pulang yuk!” ajak odel.
Odel duduk termangu menunggu pengumuman beasiswa didepan flat komputernya, sepasang matanya terpendar pada langit cerah. Bulan diatas sana tak lagi purnama, namun bias cahayanya masih menerangi bumi, memantul pada daun-daun pepohonan. Dia membayangkan bisa segera berangkat ke negeri sakura menyelesaikan studi S2 dan siap untuk bekerja. Odel ingin membuktikan pada semua orang, khususnya pak Boy, kalau ia mampu untuk mewujudkan cita-cita yang selama ini anggapan teman-temannya hanyalah sebuah mimpi manis semata. Namun ada sedikit pengharapan yang menyusup dihati odel.
“masih adakah kesempatan untuk bisa mencintai seseorang seperti cintanya pada pak Boy???”. Lamunan odel terbuyar dengan suara handphonenya, dari sana terdengar suara ana yang berteriak kegirangan.
“odeeel...! ko lulus, ko lulus sayang...! teriak ana.
“Apa...?” odel tak mampu berkata, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Seisi dadanya dipenuhi kebahagiaan.
Odel meletakkan handphonenya diatas meja belajarnya, dan kembali mengutak atik komputernya untuk memastikan perkataan sahabatnya tadi.
“ana serius, saya benar-benar lulus.” Matanya berkaca-kaca, bukan kesedihan karena dikeluarkan dari ruangan tadi atau berita pernikahan pak Boy, namun karena mimpinya terwujud. Odel tak tahan memendam rasa gembiranya, ia pun bersorak riang sambil meloncat-loncat diatas kasur empuknya.
Hari yang dinanti-nantikan odel pun akhirnya tiba, odel berhasil lulus sarjana, meskipun hanya masuk sebagai 5 besar terbaik difakultasnya, namun odelia sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan meraih impiannya di negeri yang terkenal dengan pohon sakuranya itu.
 *****
Tepat 2 tahun odel menyelasaikan S2 nya di Jepang dan kini ia pun diterima menjadi dosen ditempat ia kuliah dulu.
“Odelia...!” sapa ana sahabatnya sewaktu kuliah di universitas Haluoleo
“ana...!” mereka berpelukan dan sangat gembira dengan pertemuan itu.
“apa kabar kamu del?” tanya ana sambil memegang kedua pundak sahabatnya.
“ce ilee…., makin cantik saja ne sodariku..!” lanjut ana.
“Alhamdulillah saya baik-baik ji” jawab odel dengan lembut.
“O genki desu ka?1” Tanya odel.
“hmm…! Mentang-mentang dari jepang, sekarang ngomongnya pake ala jepang-jepang juga..!” sergah ana sewot.
“hihi.., nda jii, becanda dikit, biar ko bisa tau juga bahasa jepang!” odel geli melihat reaksi sahabat yang sudah hampir 3 tahun tidak ditemuinya.
“kamu bagaimana? Kerja dimanami sekarang?” Tanya odel lagi…
“Alhamdulillah iya say, sa kerja di Dinas Kesehatan ji…!”, oh iya…, sa sudah menikahmi juga!” jawan ana, sambil membisikan berita pernikahannya pada odelia.
“what..?” odel tersentak kaget.
“wah, gila…, bisanya sa nda dapat undangan?” lanjut odel.
“bagaimana mau di undang, kau tidak ada kabar sama sekali, telepon juga nda pernahmi.” Sergah ana dengan wajah cemberut.
“hmm, alasanmu saja itu..!” tambah odel, dengan tawanya yang imut.
“terus, manami suamimu?” wajah odel menoleh ke sekeliling mol, penasaran ingin melihat laki-laki yang sudah menaklukan  hati sahabatnya yang tomboy itu.
“lagi ke toilet!, eh itu dia..!” ana menunjuk kearah seorang laki-laki tegap dan tampan yang sedang berada tepat dibelakang odelia. Odel pun berkenalan dengan suami ana.
“oh ya del,” bagaimana di Jepang, asik nda?” Tanya ana penasaran.
“hmm, ko kerumahmi saja, nanti sa ceritakan ko semuanya, skalian ko ambil oleh-olehmu!” jawab ana.
“oh, okemi kalau begitu, insya ALLAH besok sa kerumahmu nah!” uja ana sambil berpamitan pulang. ***
“Kriing…Kriiing….Kriing!!!” Warning Alert kembali membangunkan odelia dari tidur semalam. Waktu sudah menunjukan pukul 05.00. Namun, kali ini ia tidak terburu-buru lagi karena pak Boy, tapi karena hari ini adalah hari pertama odel melaksanakan tugasnya sebagai seorang dosen. Tepat pukul 07.30, odel selesai berpakaian  dan siap untuk berangkat ke kampus. ***
“bruaakkk…!!!” odel bertabrakan dengan seseorang.

“aduuh…, maaf pak…maaf!” ucap odel dengan rasa penyesalan, sambil memungut kertas-kertas yang berceceran di lantai.
“skali lagi maaf pak!” sambil menunduk.
“tadi saya terburu-bur….” Tiba-tiba suara odel terhenti karena melihat wajah orang yang ditabraknya itu.
“pak Boy!!!” gumamnya dalam hati.
“ia nda apa-apa bu…!, saya juga tadi jalan nda liat-liat.” Pak Boy memalingkan wajahnya kearah odelia dengan kernyitan dikeningnya.
“lho…, kamu alumni mahasiswi disini kan?” Tanya pak Boy, sambil menunjuk kearah odel.
“oh, maaf pak, saya harus segera keruangan, skali lagi maaf pak!” odel menundukkan pandangannya dan segera meninggalkan pak Boy tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Pak boy sedikit merasa heran dengan tingkah odel, ia pun juga segara menuju keruang jurusan.
“yah, hari ini, saya ingin memperkenalkan dosen-dosen baru yang akan mengajar dijurusan Kesehatan Masyarakat.” Terang pak Sumadi yang merupakan Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat.
“oke, langsung saja yang pertama adalah pak Rian eka putra yang akan mengajar mata kuliah Epidemiologi, kemudian ibu Odelia azzahra putri yang akan mengajar mata kuliah promosi kesehatan  sekaligus Komunikasi Kesehatan, dan kebetulan ibu odel sementara mengajar, jadi tidak bisa hadir ditempat ini, selanjutnya pak Bryan Cristian yang akan mengajar mata kuliah Ilmu Gizi. Oke, itu saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, karena sekarang saya harus mengadiri rapat seluruh Ketua  Jurusan. dan untuk para dosen baru, saya ucapkan selamat bergabung.” Jelas  pak sumadi, sembari berpamitan. ***
Usai memberikan materi pertamanya pada mahasiswa, odel kembali berpas-pasan dengan pak Boy saat menuju keruang Jurusan.
“selamat bergabung ibu odelia…!” tegur pak Boy.
“iya, makasih pak!” jawab odel gugup.
“saya bangga dengan kamu!!!” puji pak Boy sambil menepuk lengan odel.
“iya, ini juga berkat bapak yang selalu mengajarkan untuk yakin pada kemampuan diri dan percaya pada keyakinan itu!!!” pak Boy mengangguk dengan senyuman. Ketika asik berbincang, terdengar dari kejauhan seorang anak yang memanggil ayah kearah pak Boy.
“maaf pak. Tadi Dila menangis minta ketemu dengan bapak, jadi saya bawa kesini!” ucap darma, salah satu mahasiswi IKM.
“iya, makasih…!” jawab pak Boy.
Odel menatap anak itu, matanya berkilat dengan genangan mengambang.
“apakah anak ini adalah………, hmm, mereka pasti sangat bahagia bisa memiliki seorang anak yang cantik dan lucu.” Gumamnya dalam hati.
“ini anaknya bapak?” Tanya odel seakan menyimpan kagalauan dalam hatinya.
“iya, ini anak saya, namanya Nurfadila, ayo nak, bari salam salam ke ibu odel!!”
“aiiiii!” sapa anak berusia sekitar hampir 3 tahun itu dengan suaranya yang lucu.
“ya sudah bu, saya permisi dulu!” pak Boy berlalu meninggalkan odel yang masih berdiri tercengang melihat kebahagiaan ayah dan anak itu dari kejauhan.
Diperjalanan pulang, odel kembali bertemu dengan ana. Mereka pun pergi ke salah satu kafe yang ada di kota kendari untuk makan siang.
“del..., del…!!!” tegur ana yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu hanya duduk diam, tanpa berkata apapun. namun seketika lamunan odel tebuyar dengan panggilan ana.
“Iya an, ada apa?!” jawab gadis yang kini memakai jilbab itu dengan refleks.
“ya ampun del…!, ko ajak kita disini, cuman mo temani ko melamun ka?” sungut ana kesal.
“maaf say…!” jawab odel singkat.
“ko kenapa lagi kaa?, serius skali ko melamun!, ada masalah apaaa?” ana makin penasaran dengan sikap odelia.
“iya ni say, hmm….sa mau Tanya soal pak Boy!, sekarang kayanya dia makin bahagia skali dih? Tadi saja sa liat dia lagi sama-sama anaknya.” Terang odel lesu.
“ooh….! Dari tadi yang ko lamunkan itu ternyata pak Boy???, del, memang nda ada ka laki-laki yang bisa taklukan hatimu di Jepang sana?, sa heran deh!!” kata ana ngeberondong mirip petasan tahun baru.
“ada-ada saja ko itu…! Salah ka orang bertanya???, kenapa ko jadi sewot begitu?” sergah odel, dengan harapan ana akan menjawab seluruh pertanyaan yang sejak tadi berbaris mengelilingi garis ederan di otaknya.
“oke….oke! sa akan jawab semua rasa penasaranmu itu!” sebelum bercerita ana mendesah nafas.
“pasca perkawinan pak Boy memang kalihatan bahagia, bahkan terlihat sangat bahagia, sampai-sampai pak Boy terlihat makin gemuk. Apalagi pas istrinya hamil, bapak semakin ramah sama mahasiswa, dan sangarnya makin berkurang!, tapiii…..,” ana terdiam sejenak dengan tatapan kosong.
“tapi kenapa an?” sambung odel.
“tapi separuh kebahagiaan itu musnah seketika, pas istri beliau meninggal dunia. Istrinya meninggal sehari setelah melahirkan dila!, sa tau semua ini cerita dari darma adik sepupuku. Dia bilang, sejak peristiwa itu, pak Boy kadang terlihat melamun dan suka murung, hanya anaknya yang bisa buat beliau selalu tersenyum, bahkan sampai sekarang pun, pak Boy tidak kelihatan mencari pengganti istrinya!” terang ana disela keterdiaman odel.
“woi…!” lagi-lagi ana membuyarkan lamunan odel.
“apalagi yang ko lamunkan???, hum, jangan-jangan ko lagi menghayal jadi mamanya dila?!!, hiikkkkkk….!” Ana cekikikan.
“ih…! Sembarang saja!!” keduanya tertawa. Namun dalam hati, odel berharap itu terjadi.
“eh, kita balikmi yuk…!, suamiku dari tadi menunggumi kasian di rumah!” bujuk ana.
“ayomi, nanti sa bayar nah.” Tambah odel. ***
Gadis itu terus menerus memikirkan cerita sahabatnya tadi siang.
“apa ini petunjuk?, mungkinkah masih ada kesempatan untukku…?, maukah pak Boy menerima???, tapi anaknya….?!!!” Sejuta pertanyaan menyusup di benaknya. Odel hanya mampu tengadah memandangi bulan dilangit yang tak lagi purnama, bulan yang akan menjelma dalam sosok pak Boy….!
Sejak odel kembali kekampus lamanya, dan diterima menjadi dosen, sejak itu pula odel kembali bertemu dengan cinta masa lalunya. Setiap hari ia bertemu dengan pak Boy juga dila. Bahkan kini, kedekatan antara odel dan dila mulai terlihat.
Odel yang selalu bermain bersama dila disela waktu istirahatnya, mulai merasakan kenyamanan, begitupun dengan dila. Ia seakan mendapatkan kembali sosok ibunya didalam diri odelia. Pak Boy pun mulai merasakan kedekatan antara keduanya, sampai pada ketika dila mulai memanggil odel dengan sebutan ibu. Melihat itu, akhirnya pak Boy memutuskan untuk melamar odelia menjadi ibu untuk dila. Odel sangat bahagia, kebahagiaan yang ia rasakan sampai tak mampu untuk diungkapkan. odel hanya dapat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikannya kesempatan untuk hidup bersama orang-orang yang sangat ia cintai. ***
The end………..Arigato Gozaimatsu…!!!


With love always,
Wilma_kochan
  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar