“Kriiing
. . .kriiing ....kriiiing!!!”
Warning alert yang membangunkan Odelia dari tidurnya
semalam. Gadis berusia 22 tahun
itupun tersentak kaget melihat waktu yang
sudah menunjukan pukul 07.30.
“astagaa
...., mampus!!! Saya bisa telat ini!” odel langsung bergegas dari tempat tidur
ke kamar mandi. Hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, odel pun selesai
berpakaian dan siap untuk berangkat ke kampus.
Namun, seusai odel berpamitan pada orang tuanya dan ketika
keluar rumah, tiba-tiba langkah odel terhenti.
“Ya aampun sa lupaa
...!” odel menepuk jidatnya.
“Hari ini kan ada kuis dari dosen tampan...?, waduuh!!! Tadi
malam sa
ketiduran lagi...! hmm...mau jawab apa nanti kalau dosen itu nanya???, Nda...nda...!
ini nda boleh terjadi, saya nda
boleh terlihat stupid dihadapannya!
Tapi gimana caranya...? saya kan belum siapkan materi....! Ya ampuun...!
oh.. God help me please....!!!” ucap odel berharap Tuhan menolongnya hari itu.
Itulah odel yang tidak pernah mau ketinggalan materi bila hari
selasa dan kamis. Bahkan, ia selalu datang ke kampus lebih awal dari waktu yang
terjadwal. Dan sehari sebelum kedua hari itu, biasanya odel selalu menyiapkan
segala sesuatunya termasuk materi-materi yang akan dibahas pada kedua hari
tersebut. bagaimana tidak, kedua hari itu adalah hari yang selalu membuat
perasaan gadis berkerudung itu berbunga-bunga. Padahal hampir semua mahasiswa
jurusan Kesehatan Masyarakat tahu kalau
dosen yang mengajar mata kuliah Generic
Kompetention itu adalah salah satu dosen yang terkenal dengan kekileran dan
ketegasannya dalam memberikan nilai pada mahasiswa. Tapi dilain pihak, dosen
yang akrab dipanggil Pak Boy juga terkenal bijak, tampan dan cerdas. Itulah
yang membuat odel sangat mengagumi sosok pak Boy. lebih tepatnya, jatuh cinta
pada dosen yang berusia 30 tahun dan masih lajang itu, walaupun terkadang
sikapnya ketus pada odel. Tapi, bagi odel pak Boy “is Perfect”. Sampai-sampai odel sangat termotivasi belajar dengan
giat, selain untuk menaklukan hati pak Boy, odel juga ingin mewujudkan
obsesinya untuk segera menyelesaikan study
dan mengaejar beasiswa S2 ke jepang.
Odel tiba di kampus tepat pukul 08.00, semua teman-temannya
sudah berada dalam ruangan, tapi untungnya pak Boy masih berada dalam ruangan
jurusan untuk mengambil absen. Odelpun berlari sekencangnya demi mendahului pak
Boy. Sampailah ia dalam ruangan dan segera mengambil kursi, lantas duduk.
“huuuft...alhamdulillah!” kata odel, dengan nafas
terengah-engah, seakan baru lolos dari kejaran harimau. 2 menit kemudian pak
Boy tiba dalam ruangan.
“selamat pagi semua....!” sapa pak Boy kepada seluruh
mahasiswa/i.
“kalian sudah tau kan kalau hari ini kita akan kuis?” lanjut
pak Boy.
“iyaa pak...!” jawab para mahasiswa/i.
Tanpa basa-basi, pak Boy langsung menunjuk irfan yang duduk
tepat disamping odel.
“coba jelaskan, apa pentingnya Generic Kompetention bagi kamu sebagai seorang tokoh public
health?” tanya pak boy.
”bagi saya sebagai seorang tokoh public
health, generik kompetensi sangat dibutuhkan untuk melatih kita,
bagaimana nantinya bila berhadapan langsung dengan masyarakat. Dan juga melatih
kita untuk berkompetensi dimasyarakat nanti”. Jawab irfan dengan percaya diri.
“hmmm...!” odelia azzahra putri! Bagaimana menurutmu odel...?
tanya pak Boy lagi secara tiba-tiba.
“hmm..., ee...m menurut saya pak?” tanya odel balik.
“iya, menurut kamu, memang ada lagi yang punya nama odel
diruangan ini? Ayo cepat jawab. Tegas pak Boy.”
“emmmm, yah, sama pak seperti yang dikatakan irfan tadi....!” jawab odel dengan grogi.
“saya tanya menurut kamu, bukan menurut irfan!” sentak pak Boy
ketus dengan nada suara yang tinggi.
“saya....!” odel menoleh kekiri dan kekanan.
“maaf pak!! Saya belum menguasai materi bapak hari ini.” Rasa
penyesalan diraut wajah odel.
“oke, kalau begitu untuk hari ini kamu tidak perlu mengikuti
mata kuliah saya.” Pak Boy mengulurkan tangannya menunjuk ke arah pintu keluar.
Odel bergegas keluar dari ruangan, dan menuju keruangan
sebelah.
“oke, untuk hari ini sampai disini dulu pertemuan kita, pesan
saya untuk pertemuan berikutnya dan seterusnya, saya tidak ingin kejadian tadi
berulang kembali, sebelum saya masuk ruangan, kalian sudah harus menguasai
materi. Mengerti???.”
“Iya pak!!!” jawab para mahasiswa/i.
Ana melewati ruangan sebelah, disitu ia mendapati odelia duduk
termenung.
“del...!” ana mengambil kursi disamping odel lantas duduk.
“ko kenapa, kok bengong?, ko masih terbawa suasana tadi ka? Ya
sudahlah del...! ko lupakanmi masalah tadi!” odel menatap sahabatnya dengan
senyum masam.
“udah!!! Anggap saja tadi nda pernah terjadi, lebih bae ko
belajar saja supaya ko bisa tunjukan sama bapak, kalau ko itu sebenarnya tidak stupid”. Hibur ana.
“Emang pak Boy tadi bilang begitu ka?” Sergah odel.
“hmmm... hehe...!!! nda ji...,bercanda! Serius skali bela...!”
canda ana.
“ya udah, kita kekantin saja marimi”. Sambil menarik tangan
odel.
“eh del, by the way,
tumben ko terlambat tadi? Dan tumben juga ko nda siap materi?, humm...!
biasanya kaaan, kaumi yang paling semangat kalau mata kuliah pak Boy!” canda
ana lagi.
“iya an, tadi malam sa ketiduran ciank...jadi sa nda sempatmi
cari materi!” Terang odel, seakan menyesali perbuatannya.
“ough...! bogitu ka...! tapi del, kayanya cuman kau deh
mahasiswi yang fans skali sama tu orang, padahal kan hampir semua mahasiswa pedoko skali sama itu bapak!!!” ko suka ka
sama itu bapak?” ana curiga.
“nda jiiii...! sa hanya ingin lulus mata kuliahnya itu bapak
dengan nilai yang bagus...ko taumi to..sa pengen secepatnya sarjana, lagian
sekarang saya lagi ajukan proposal untuk beasiswa. Jadi sa harus giat belajar.”
Terang odel dengan penuh pengharapan bakal lulus secepatnya dan diterima
disalah satu universitas di jepang nanti. Yap, itu adalah impian odel sejak SMA
sampai sekarang.
“dengan bibir menggurat senyum, odel juga memberitahu sahabat
baiknya itu, kalau salah satu alasan
yang buat dia bersemangat seperti sekarang ini adalah karena adanya pak Boy.”
“hmm, sa bilang juga apa...? ko suka to sama itu bapak!” ana membuat wajah mungil odel
merah.
“iyaaa, terserahmi..., yang penting ko senang...! tapi sa
kastau ko nah,, jangan ko terlalu berharap kasian sama itu dosen tampan plus sangar itu!” tandas ana.
“maksudmu apa ka itu?? Berharap apa...???” sangkal odel dengan
wajah merah.
“allllaaah nda usahmi ko menyangkal lagi.....!” ana menyergah.
“sa tau ji kau sayang....., ko nda pernah suka orang seperti
ini!!, eh....tapi ada kabar buruk nih, dengar-dengar to, kalau 5 hari lagi
dosen kesayanganmu itu mau merridmi,
katanya sih dia dijodohkan.” Ujar ana dengan raut wajah serius.
“what??? Ko tau dari mana an?” odel tercekat.
“sa nda sengaja dengar dari para dosen waktu sa bawa tugas
akhirku di jurusan.” Odel termenung memandangi sahabatnya, seakan mengharap ada
riak gurauan disinar matanya. Ana bersungguh-sungguh, kesakitan dihati odel.
“del..., jangan ko putus asa begitu....!, masih banyak ji ikan
dilaut..., Lagian untuk apa juga ko harapkan dosen sangar end kiler itu kasian???, kalau perlu to, nanti sa kenalakan ko sama
teman-temanku yang kece-kece...!, sudahmi...jangan terlalu dipikirkan!” bujuk
gadis tomboy itu.
“mendingan to, ko fokus saja sama skripsi dan proposal
beasiswamu itu..., sa doakan, semoga proposalmu diterima dan bisa kuliah di
Jepang, biar Pak Boy nanti menyesal nda pilih kau jadi istrinya.” Hibur ana.
“ kau itu dih, paling jago bikin sa GR...!” tawa odel lirih.
“biarmi..., yang penting ko bisa tertawa lagi...!, sudahmi,
kita pulang yuk!” ajak odel.
Odel duduk termangu menunggu pengumuman beasiswa didepan flat
komputernya, sepasang matanya terpendar pada langit cerah. Bulan diatas sana
tak lagi purnama, namun bias cahayanya masih menerangi bumi, memantul pada
daun-daun pepohonan. Dia membayangkan bisa segera berangkat ke negeri sakura
menyelesaikan studi S2 dan siap untuk bekerja. Odel ingin membuktikan pada
semua orang, khususnya pak Boy, kalau ia mampu untuk mewujudkan cita-cita yang
selama ini anggapan teman-temannya hanyalah sebuah mimpi manis semata. Namun
ada sedikit pengharapan yang menyusup dihati odel.
“masih adakah kesempatan untuk bisa mencintai seseorang
seperti cintanya pada pak Boy???”. Lamunan odel terbuyar dengan suara handphonenya, dari sana terdengar suara
ana yang berteriak kegirangan.
“odeeel...! ko lulus, ko lulus sayang...! teriak ana.
“Apa...?” odel tak mampu berkata, seakan tak percaya dengan
apa yang didengarnya. Seisi dadanya dipenuhi kebahagiaan.
Odel meletakkan handphonenya
diatas meja belajarnya, dan kembali mengutak atik komputernya untuk memastikan
perkataan sahabatnya tadi.
“ana serius, saya benar-benar lulus.” Matanya berkaca-kaca,
bukan kesedihan karena dikeluarkan dari ruangan tadi atau berita pernikahan pak
Boy, namun karena mimpinya terwujud. Odel tak tahan memendam rasa gembiranya,
ia pun bersorak riang sambil meloncat-loncat diatas kasur empuknya.
Hari yang dinanti-nantikan odel pun akhirnya tiba, odel
berhasil lulus sarjana, meskipun hanya masuk sebagai 5 besar terbaik difakultasnya, namun odelia sangat bahagia
karena sebentar lagi ia akan meraih impiannya di negeri yang terkenal dengan
pohon sakuranya itu.
*****
Tepat 2 tahun odel menyelasaikan S2 nya di Jepang dan kini ia
pun diterima menjadi dosen ditempat ia kuliah dulu.
“Odelia...!” sapa ana sahabatnya sewaktu kuliah di universitas
Haluoleo
“ana...!” mereka berpelukan dan sangat gembira dengan
pertemuan itu.
“apa kabar kamu del?” tanya ana sambil memegang kedua pundak sahabatnya.
“ce ilee…., makin cantik
saja ne sodariku..!” lanjut ana.
“Alhamdulillah saya baik-baik
ji” jawab odel dengan lembut.
“O genki desu ka?1” Tanya odel.
“hmm…! Mentang-mentang
dari jepang, sekarang ngomongnya pake ala jepang-jepang juga..!” sergah ana
sewot.
“hihi.., nda jii, becanda
dikit, biar ko bisa tau juga bahasa jepang!” odel geli melihat reaksi sahabat
yang sudah hampir 3 tahun tidak ditemuinya.
“kamu bagaimana? Kerja
dimanami sekarang?” Tanya odel lagi…
“Alhamdulillah iya say, sa
kerja di Dinas Kesehatan ji…!”, oh iya…, sa sudah menikahmi juga!” jawan ana,
sambil membisikan berita pernikahannya pada odelia.
“what..?” odel tersentak
kaget.
“wah, gila…, bisanya sa
nda dapat undangan?” lanjut odel.
“bagaimana mau di undang,
kau tidak ada kabar sama sekali, telepon juga nda pernahmi.” Sergah ana dengan
wajah cemberut.
“hmm, alasanmu saja
itu..!” tambah odel, dengan tawanya yang imut.
“terus, manami suamimu?”
wajah odel menoleh ke sekeliling mol, penasaran ingin melihat laki-laki yang
sudah menaklukan hati sahabatnya yang
tomboy itu.
“lagi ke toilet!, eh itu
dia..!” ana menunjuk kearah seorang laki-laki tegap dan tampan yang sedang
berada tepat dibelakang odelia. Odel pun berkenalan dengan suami ana.
“oh ya del,” bagaimana di
Jepang, asik nda?” Tanya ana penasaran.
“hmm, ko kerumahmi saja,
nanti sa ceritakan ko semuanya, skalian ko ambil oleh-olehmu!” jawab ana.
“oh, okemi kalau begitu,
insya ALLAH besok sa kerumahmu nah!” uja ana sambil berpamitan pulang. ***
“Kriing…Kriiing….Kriing!!!”
Warning Alert kembali membangunkan
odelia dari tidur semalam. Waktu sudah menunjukan pukul 05.00. Namun, kali ini
ia tidak terburu-buru lagi karena pak Boy, tapi karena hari ini adalah hari
pertama odel melaksanakan tugasnya sebagai seorang dosen. Tepat pukul 07.30, odel
selesai berpakaian dan siap untuk
berangkat ke kampus. ***
“bruaakkk…!!!” odel
bertabrakan dengan seseorang.
“aduuh…, maaf pak…maaf!”
ucap odel dengan rasa penyesalan, sambil memungut kertas-kertas yang berceceran
di lantai.
“skali lagi maaf pak!” sambil
menunduk.
“tadi saya terburu-bur….”
Tiba-tiba suara odel terhenti karena melihat wajah orang yang ditabraknya itu.
“pak Boy!!!” gumamnya
dalam hati.
“ia nda apa-apa bu…!, saya
juga tadi jalan nda liat-liat.” Pak Boy memalingkan wajahnya kearah odelia dengan
kernyitan dikeningnya.
“lho…, kamu alumni
mahasiswi disini kan?” Tanya pak Boy, sambil menunjuk kearah odel.
“oh, maaf pak, saya harus
segera keruangan, skali lagi maaf pak!” odel menundukkan pandangannya dan
segera meninggalkan pak Boy tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Pak boy sedikit merasa heran dengan tingkah odel, ia pun juga segara menuju
keruang jurusan.
“yah, hari ini, saya ingin
memperkenalkan dosen-dosen baru yang akan mengajar dijurusan Kesehatan
Masyarakat.” Terang pak Sumadi yang merupakan Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan
Masyarakat.
“oke, langsung saja yang
pertama adalah pak Rian eka putra yang akan mengajar mata kuliah Epidemiologi, kemudian
ibu Odelia azzahra putri yang akan mengajar mata kuliah promosi kesehatan sekaligus Komunikasi Kesehatan, dan kebetulan
ibu odel sementara mengajar, jadi tidak bisa hadir ditempat ini, selanjutnya
pak Bryan Cristian yang akan mengajar mata kuliah Ilmu Gizi. Oke, itu saja yang
dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, karena sekarang saya harus
mengadiri rapat seluruh Ketua Jurusan.
dan untuk para dosen baru, saya ucapkan selamat bergabung.” Jelas pak sumadi, sembari berpamitan. ***
Usai memberikan materi
pertamanya pada mahasiswa, odel kembali berpas-pasan dengan pak Boy saat menuju
keruang Jurusan.
“selamat bergabung ibu
odelia…!” tegur pak Boy.
“iya, makasih pak!” jawab
odel gugup.
“saya bangga dengan
kamu!!!” puji pak Boy sambil menepuk lengan odel.
“iya, ini juga berkat
bapak yang selalu mengajarkan untuk yakin pada kemampuan diri dan percaya pada
keyakinan itu!!!” pak Boy mengangguk dengan senyuman. Ketika asik berbincang,
terdengar dari kejauhan seorang anak yang memanggil ayah kearah pak Boy.
“maaf pak. Tadi Dila menangis
minta ketemu dengan bapak, jadi saya bawa kesini!” ucap darma, salah satu
mahasiswi IKM.
“iya, makasih…!” jawab pak
Boy.
Odel menatap anak itu,
matanya berkilat dengan genangan mengambang.
“apakah anak ini
adalah………, hmm, mereka pasti sangat bahagia bisa memiliki seorang anak yang
cantik dan lucu.” Gumamnya dalam hati.
“ini anaknya bapak?” Tanya
odel seakan menyimpan kagalauan dalam hatinya.
“iya, ini anak saya,
namanya Nurfadila, ayo nak, bari salam salam ke ibu odel!!”
“aiiiii!” sapa anak
berusia sekitar hampir 3 tahun itu dengan suaranya yang lucu.
“ya sudah bu, saya permisi
dulu!” pak Boy berlalu meninggalkan odel yang masih berdiri tercengang melihat
kebahagiaan ayah dan anak itu dari kejauhan.
Diperjalanan pulang, odel
kembali bertemu dengan ana. Mereka pun pergi ke salah satu kafe yang ada di
kota kendari untuk makan siang.
“del..., del…!!!” tegur
ana yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu hanya duduk diam, tanpa
berkata apapun. namun seketika lamunan odel tebuyar dengan panggilan ana.
“Iya an, ada apa?!” jawab
gadis yang kini memakai jilbab itu dengan refleks.
“ya ampun del…!, ko ajak
kita disini, cuman mo temani ko melamun ka?” sungut ana kesal.
“maaf say…!” jawab odel
singkat.
“ko kenapa lagi kaa?,
serius skali ko melamun!, ada masalah apaaa?” ana makin penasaran dengan sikap
odelia.
“iya ni say, hmm….sa mau
Tanya soal pak Boy!, sekarang kayanya dia makin bahagia skali dih? Tadi saja sa
liat dia lagi sama-sama anaknya.” Terang odel lesu.
“ooh….! Dari tadi yang ko
lamunkan itu ternyata pak Boy???, del, memang nda ada ka laki-laki yang bisa
taklukan hatimu di Jepang sana?, sa heran deh!!” kata ana ngeberondong mirip
petasan tahun baru.
“ada-ada saja ko itu…!
Salah ka orang bertanya???, kenapa ko jadi sewot begitu?” sergah odel, dengan
harapan ana akan menjawab seluruh pertanyaan yang sejak tadi berbaris
mengelilingi garis ederan di otaknya.
“oke….oke! sa akan jawab
semua rasa penasaranmu itu!” sebelum bercerita ana mendesah nafas.
“pasca perkawinan pak Boy
memang kalihatan bahagia, bahkan terlihat sangat bahagia, sampai-sampai pak Boy
terlihat makin gemuk. Apalagi pas istrinya hamil, bapak semakin ramah sama
mahasiswa, dan sangarnya makin berkurang!, tapiii…..,” ana terdiam sejenak dengan
tatapan kosong.
“tapi kenapa an?” sambung
odel.
“tapi separuh kebahagiaan
itu musnah seketika, pas istri beliau meninggal dunia. Istrinya meninggal
sehari setelah melahirkan dila!, sa tau semua ini cerita dari darma adik
sepupuku. Dia bilang, sejak peristiwa itu, pak Boy kadang terlihat melamun dan
suka murung, hanya anaknya yang bisa buat beliau selalu tersenyum, bahkan
sampai sekarang pun, pak Boy tidak kelihatan mencari pengganti istrinya!”
terang ana disela keterdiaman odel.
“woi…!” lagi-lagi ana membuyarkan
lamunan odel.
“apalagi yang ko
lamunkan???, hum, jangan-jangan ko lagi menghayal jadi mamanya dila?!!,
hiikkkkkk….!” Ana cekikikan.
“ih…! Sembarang saja!!”
keduanya tertawa. Namun dalam hati, odel berharap itu terjadi.
“eh, kita balikmi yuk…!, suamiku
dari tadi menunggumi kasian di rumah!” bujuk ana.
“ayomi, nanti sa bayar
nah.” Tambah odel. ***
Gadis itu terus menerus
memikirkan cerita sahabatnya tadi siang.
“apa ini petunjuk?,
mungkinkah masih ada kesempatan untukku…?, maukah pak Boy menerima???, tapi
anaknya….?!!!” Sejuta pertanyaan menyusup di benaknya. Odel hanya mampu
tengadah memandangi bulan dilangit yang tak lagi purnama, bulan yang akan
menjelma dalam sosok pak Boy….!
Sejak odel kembali
kekampus lamanya, dan diterima menjadi dosen, sejak itu pula odel kembali
bertemu dengan cinta masa lalunya. Setiap hari ia bertemu dengan pak Boy juga
dila. Bahkan kini, kedekatan antara odel dan dila mulai terlihat.
Odel yang selalu bermain
bersama dila disela waktu istirahatnya, mulai merasakan kenyamanan, begitupun
dengan dila. Ia seakan mendapatkan kembali sosok ibunya didalam diri odelia.
Pak Boy pun mulai merasakan kedekatan antara keduanya, sampai pada ketika dila
mulai memanggil odel dengan sebutan ibu. Melihat itu, akhirnya pak Boy
memutuskan untuk melamar odelia menjadi ibu untuk dila. Odel sangat bahagia,
kebahagiaan yang ia rasakan sampai tak mampu untuk diungkapkan. odel hanya
dapat mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikannya kesempatan untuk
hidup bersama orang-orang yang sangat ia cintai. ***
The end………..Arigato Gozaimatsu…!!!
With love always,
Wilma_kochan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar