(Oleh:
Wilmawati Wahyudin_F1D2 10 175)
Pemasaran soaial
dapat di artikan perancangan, penerapan, dan pengendalian program yang
ditujukan untuk meningkatkan penerimaan suatu gagasan atau praktik tertentu
pada suatu kelompok sasaran. Pada dasarnya pemasaran sosial tidak berbeda
dengan pemasaran komersia. Pemasaran sosial menggunakan teknis analisis yang
sama : reset pasar, pengembangan produk, penentuan harga, keterjangkauan, dan
promosi.
Pemasaran Sosial
pertama kali diperkenalkan tahun1971, yaitu untuk membedakan pengguanaan
prinsip dan teknik pemasaran untuk memajukan suatu perubahan sosial, ide atau
perilaku. Setelah kata kata itu berkembang pengertiannya menjadi suatu teknologi
manajemen perubahan sosial yang melibatkan desain, implementasi dan kontrol
dari program penerimaan suatu ide atau praktik sosial dalam satu kelompok atau
target adopter.
Pelaksanaan pemasaran
sosial ini menggunakan konsep-konsep segmentasi pasar, riset khalayak,
pengembangan dan pengujian konsep produk, komunikasi, fasilitas, intensifikasi
serta teori perubahan untuk memaksimalkan tanggapan terhadap target adopter.
Pemasaran
sosial digunakan karena beberapa alasan, yaitu ;
- pengalaman disektor komersial, keberhasilan dalam menjangkau konsumen serta kesediaan konsumen untuk membayar atau membeli.
- Pengalaman disektor sosial, resestensi terhadap program sosial ke enggangan masyarakat untuk membayar pelayanan sosial.
- Penggunaan proteksi, ancaman, dan inforement pada kegiatan pembangunan atau pelayanan sosial, misalnya safari KB.
- Orientasi konsumen versus orientasi produsen ; kuatnya orientasi konsumen di sector komersial kuatnya orientasi provedeo pada sector sosial.
- Kecenderungan penggunaan power di sector sosial oleh aparat pemerintah memunculkan program yang top down, instruktif dan mengandalkan mobilitasi massa.
- Disektor komersial, pengusaha menyadari tidak dimilikinya power untuk memaksa konsumen sehingga mendorong pengembangan upaya yang menjadi kebutuhan konsumen.
Sedangkan ilmu perilaku di lihat
dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk
hidup) yang bersangkutan baik yang dapat diamatai secara langsung ataupun tidak
langsung. Menurut Skiner (1983) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan
dari luar).
Produk
Sosial terdapat 3 tipe :
1. Tipe
pertama adalah gagasan sosial (Social
Idea), yang terdapat bentuk berupa suatu kepercayaan, sikap atau nilai.
a) Dalam
persoalan tertentu bisa saja terjadi bahwa intinya adalah kepercayaan.
Contohnya seperti dalam kampanye anti merokok,adalah kepercayaan bahwa merokok
itu membahayakan kesehatan. Suatu kepercayaan adalah sebuah persepsi yang
diambil sekitar hal-hal faktual,suatu hal yang tidak membutuhkan evaluasi
secara kritis.
b) Gagasan
sosial bisa merupakan sebuah sikap. Contohnya adalah kalimat yang biasa
digunakan dalam kampanye program keluarga berencana. Bayi yang direncanakan
akan lebih diperhatikan dibandingkan bayi yang lahir akibat kehamilan mendadak.
c) GagAsan
sosial bisa juga berupa nilai, seperti hak asasi manusia atau seperti dalam
kampanye tentang pembauran [umumnya berkaitan dengan wni keturunan cina] yang
berupaya mengubah nilai masyarakat yang disadarai atas prasangka fanatik dan
stereotipe yang menggeneralisasi suatu hal.
c)
2. Tipe
produk sosial kedua adalah praktik sosial
2.Ini
bisa berupa peristiwa yang terjadi akibat aksi perorangan , seperti yang ditunjukan
pada vaksinasi atau keikut sertakan
dalam pemilihan umum. Juga bisa berupa pola perilaku yang sukar dirubah,
seperti berhenti merokok.
3. Tipe
produk sosial ketiga adalah suatu tujuan perubahan sosial yang melibatkan kasat
mata.
3.Produk
kasat mata menunjuka pada produk fisik yang menyertai suatu kampanye sosial.
Seperti pilkontrasepsi atau kondom yaitu alat-alat yang berguna dalam
menyempurnakan praktik sosial, dalam konteks praktik keluarga berencana.
Pemasaran
sosial memperkenalkan gagasan-gagasan sesuai praktik sosial. Tujuan akhirnya
adalah perubahan perilaku. Jadi, pengenalan kampanye gizi tidak sesederhana
menolong konsumen mengetahui dan mendorong minatnya memperbaiki gizi, namun
lebih jauh lagi adalah untuk mengubah pola kebiasaan makan masyarakat.
Target
Adopter
Tujuan-tujuan
pemasaran sosial mengarah pada suatu kelompok atau lebih target adopter. Ada
sejumlah kelompok yang dapat diatasi dengan cara-cara yang beragam seperti atas
dasar : usia, status sosial ekonomi, jumlah keluarga atau lokasi geografis.
Harus dilakukan membedakan segmen pasar tersebut secara lebih tajan, seperti
gadis remaja yang hidup di kota besar, wanita karir berkeluarga yang tidak
ingin pumya amak lagi, atau ibu metropolis yang ingin mengontrol terhadap
kelahiran bayinya.
Tiap target adopter,
memiliki seperangkat kepercayaan, sikap dan nilai. Program pemasaran sosial
dibentuk dan disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap segmen populasi.
Pemasaran sosial memerlukan pengetahuan tentang setiap kelompok target adopter,
termasuk di dalamnya :
a)
Karakteristik sosial-demografis,
atribut-atribut eksternal dari kelas sosial, penghasilan, pendidikan, umur,
pekerjaan dan seterusnya.
b)
Profil psikologis, atribut-atribut
internal se[erti sikap, nilai, motivasi dan kepribadian.
c)
Karakteristik perilaku, pola perilaku,
kebiasaan beli da. Karakteristik pengambilan keputusan.
Dengan
mengetahui target adopter dengan cara-cara tersebut di atas, memungkinkan
perencana pemasaran sosial untuk membuat perkiraan ( prediksi) yang lebih
akurat. Perkiraan tersebut, adalah prasyarat kemampuan untuk mempengaruhi
hasil. Juga akan berdampak pada keberhasilan program. Fakta ini dapat dilihat
dari kasus kelompok religius yang menentang program keluarga berencana.
Kelompok-kelompok
yang mempengaruhi langsung terhadap keberhasilan program perubahan sosial :
a.
Kelompok yang memberi bantuan izin,
seperti lembaga pengatur perizinan atau yang berwenang secara hukum yang
dibutuhkan untuk mendistribusikan program yang akan dijalankan.
b.
Kelompok pendukung, seperti dokter atau
staf medis lainnya yang berpartisipasi untuk mendukung kegiatan yang dibutuhkan
dalam menyampaikan pelayanan-pelayanan dalam sebuah program distribusi
kontrasepsi secara klinis.
c.
Kelompok evaluasi, seperti komite
legislatif yang memberi evaluasi akhir. Apakah punya pengaruh yang
menguntungkan ataukah merugikan pada program distribusi?
Sebuah
program pemasaran sosial yang efektif membutuhkan tentang karakteristik tiap
kelompok yang berpengaruh dan memenuhi kebutuhan setiap kelompok dalam suatu
strategipemasaran yang tepat.
Proses
Pengelolaan Pemasaran Sosial
Pengelolaan
pemasaran sosial tidak dikelola hanya oleh departemen pemasaran saja, namun
juga dikelola oleh beberapa departemen. Kotler mengusulkan hubungan-hubungan
yang harusnya tetap berlangsung antar program dan perencanaan strategis
berbagai departemen.
Peranan
departemen lainnya, seperti administrasi, keuangan, personalia danasi adalah
pendukung tujuan dan strategi pemasaran dalam bentuk pemenuham 4 unsur penting
yaitu : dana, perlengkapan dan tenaga kerja.
Proses
suatu kegiatan pemasaran sosial berpijak pada analisis lingkungan pemasarannya,
penelitian populasi target adopter, pendefinisian problem dan kemungkinan bagi
pemecahan permasalahan sosial, merancang strategi, merancang marketing mix,
serta pengorganisasian, implementasi, kontrol dan evaluasi terhadap usaha
kegiatan pemasaran sosial.
Proses kegiatan Pemasaran sosial :
1) Menganalisis
Lingkungan Pemasaran Sosial
1)Langkah
pertama proses pengelolaan pemasaran siosial adalah menganalisis secara dini
berkenaan dengan kampanye sosial yang khusus.
2) Meneliti
Populasi Target Adopter
2)Perlu
dimengerti target adopter berikut kebutuhan-kebutuhannya. Setiap kelompok
memiliki karakteristik tertentu dalam menanggapi kampanye sosial.
3) Merancang
Tujuan Dan Strategi Pemasaran Sosial
3)Tujuan
pemasaran sosial haruslah spesifik, terukur (measureable) dan dapat dicapai.
Seringkali tujuan tidak diungkapkan secara spesifik, dengan demikian akan sulit
untuk diukur, misalnya “peningkatan kesejahteraan anak-anak” atau “peningkatan
kualitas hidup”.
4) Mendisain
tujuan program secara spesifik dan terujur, dapat dilihat dalam bagan ini :
4)
Dengan memiliki seperangkat tujuan program, harus diputuskan pada tingkat apa
pengeluaran anggaran dibutuhkan untuk mencapainya. Pada tahap ini, disebut
sebagai upaya penganggaran.
4)
5) Merencanakan
Program Pemasaran Sosial
5)Setelah
strategi dirancang, maka harus disiapkan rician program sosial marketing-mix-
nya. Elemen-elemen sosial marketing-mix dari media massa harus selektif dan
dikembangkan dalam program yang taktis. Maka pertimbangkan hal berikut ini :
5)Pemilihan
yang hati-hati terhadap biro iklan
5)Perancangan
dan penampilan iklan
5)Seleksi
media dan waktu yang tepat
5)Penentuan
harga adalah alat pemasaran lainnya yang diperlukan dalam program taktis. Hal
ini juga dikaitkan pada biaya yang harus dibebankan kepada target adopter untuk
beraksi sekarang juga. Pelbagai variasi program taktis akan berbeda satu sama
lainnya sesuai produk sosialnya.
6) Pengorganisasian,
Pelaksanaan, Pengawasan dan Evaluasi
6)Dalam proses pengaturan pemasaran sosial, lamgkah
akhirnya adalah mengorganisasi sumber-sumber daya pemasaran, melaksanakan
program sosial marketing-mix, mengontrol kinerja pelaksanaan program serta
mengevaluasikan hasil(pengaruhi sosial danetik) dari kegiatan di lapangan. Prinsip
manajemen tersebut menekankan bahwa hasil yang terbaik disebabkan oleh
perencanakan yang dilksanakan dan diawasi secara efektif.sementara itu
pelaksanaan dan pengawasan yang efektif membutuhan data akurat tentang
tanggapan kelompok target adopter atas pelaksanaan program pemasaran sosial
tersebut.
6)
Sumber
:
Cahyowati Diah Tri, M.Si. Dra. 2011. Bentuk Dan
Tugas Pemasaran Sosial Sosial. pksm.mercubuana.ac.id.
Pratama S. 2012. Pemasaran
Sosial. www.syasapratama.com.