Selasa, 25 Desember 2012

PERAN & DETERMINAN PEMASARAN SOSAIL TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT (Tugas Individu Pemasaran Sosial)


(Oleh: Wilmawati Wahyudin_F1D2 10 175)
Pemasaran soaial  dapat di artikan perancangan, penerapan, dan pengendalian program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan suatu gagasan atau praktik tertentu pada suatu kelompok sasaran. Pada dasarnya pemasaran sosial tidak berbeda dengan pemasaran komersia. Pemasaran sosial menggunakan teknis analisis yang sama : reset pasar, pengembangan produk, penentuan harga, keterjangkauan, dan promosi.
Pemasaran Sosial pertama kali diperkenalkan tahun1971, yaitu untuk membedakan pengguanaan prinsip dan teknik pemasaran untuk memajukan suatu perubahan sosial, ide atau perilaku. Setelah kata kata itu berkembang pengertiannya menjadi suatu teknologi manajemen perubahan sosial yang melibatkan desain, implementasi dan kontrol dari program penerimaan suatu ide atau praktik sosial dalam satu kelompok atau target adopter.
Pelaksanaan pemasaran sosial ini menggunakan konsep-konsep segmentasi pasar, riset khalayak, pengembangan dan pengujian konsep produk, komunikasi, fasilitas, intensifikasi serta teori perubahan untuk memaksimalkan tanggapan terhadap target adopter.

Pemasaran sosial digunakan karena beberapa alasan, yaitu ;
  1. pengalaman disektor komersial, keberhasilan dalam menjangkau konsumen serta kesediaan konsumen untuk membayar atau membeli.
  2. Pengalaman disektor sosial, resestensi terhadap program sosial ke enggangan masyarakat untuk membayar pelayanan sosial.
  3. Penggunaan proteksi, ancaman, dan inforement pada kegiatan pembangunan atau pelayanan sosial, misalnya safari KB.
  4. Orientasi konsumen versus orientasi produsen ; kuatnya orientasi konsumen di sector komersial kuatnya orientasi provedeo pada sector sosial.
  5. Kecenderungan penggunaan power di sector sosial oleh aparat pemerintah memunculkan program yang top down, instruktif dan mengandalkan mobilitasi massa.
  6. Disektor komersial, pengusaha menyadari tidak dimilikinya power untuk memaksa konsumen sehingga mendorong pengembangan upaya yang menjadi kebutuhan konsumen.
Sedangkan ilmu perilaku di lihat dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan baik yang dapat diamatai secara langsung ataupun tidak langsung. Menurut Skiner (1983) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).

Produk Sosial terdapat 3 tipe :
1.    Tipe pertama adalah gagasan sosial (Social Idea), yang terdapat bentuk berupa suatu kepercayaan, sikap atau nilai.
a)    Dalam persoalan tertentu bisa saja terjadi bahwa intinya adalah kepercayaan. Contohnya seperti dalam kampanye anti merokok,adalah kepercayaan bahwa merokok itu membahayakan kesehatan. Suatu kepercayaan adalah sebuah persepsi yang diambil sekitar hal-hal faktual,suatu hal yang tidak membutuhkan evaluasi secara kritis.
b)   Gagasan sosial bisa merupakan sebuah sikap. Contohnya adalah kalimat yang biasa digunakan dalam kampanye program keluarga berencana. Bayi yang direncanakan akan lebih diperhatikan dibandingkan bayi yang lahir akibat kehamilan mendadak.
c)    GagAsan sosial bisa juga berupa nilai, seperti hak asasi manusia atau seperti dalam kampanye tentang pembauran [umumnya berkaitan dengan wni keturunan cina] yang berupaya mengubah nilai masyarakat yang disadarai atas prasangka fanatik dan stereotipe yang menggeneralisasi suatu hal.
c)
2.    Tipe produk sosial kedua adalah praktik sosial
2.Ini bisa berupa peristiwa yang terjadi akibat aksi perorangan , seperti yang ditunjukan pada vaksinasi  atau keikut sertakan dalam pemilihan umum. Juga bisa berupa pola perilaku yang sukar dirubah, seperti berhenti merokok.
3.    Tipe produk sosial ketiga adalah suatu tujuan perubahan sosial yang melibatkan kasat mata.
3.Produk kasat mata menunjuka pada produk fisik yang menyertai suatu kampanye sosial. Seperti pilkontrasepsi atau kondom yaitu alat-alat yang berguna dalam menyempurnakan praktik sosial, dalam konteks praktik keluarga berencana.



Pemasaran sosial memperkenalkan gagasan-gagasan sesuai praktik sosial. Tujuan akhirnya adalah perubahan perilaku. Jadi, pengenalan kampanye gizi tidak sesederhana menolong konsumen mengetahui dan mendorong minatnya memperbaiki gizi, namun lebih jauh lagi adalah untuk mengubah pola kebiasaan makan masyarakat.

Target Adopter
Tujuan-tujuan pemasaran sosial mengarah pada suatu kelompok atau lebih target adopter. Ada sejumlah kelompok yang dapat diatasi dengan cara-cara yang beragam seperti atas dasar : usia, status sosial ekonomi, jumlah keluarga atau lokasi geografis. Harus dilakukan membedakan segmen pasar tersebut secara lebih tajan, seperti gadis remaja yang hidup di kota besar, wanita karir berkeluarga yang tidak ingin pumya amak lagi, atau ibu metropolis yang ingin mengontrol terhadap kelahiran bayinya.
Tiap target adopter, memiliki seperangkat kepercayaan, sikap dan nilai. Program pemasaran sosial dibentuk dan disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap segmen populasi. Pemasaran sosial memerlukan pengetahuan tentang setiap kelompok target adopter, termasuk di dalamnya :
a)         Karakteristik sosial-demografis, atribut-atribut eksternal dari kelas sosial, penghasilan, pendidikan, umur, pekerjaan dan seterusnya.
b)        Profil psikologis, atribut-atribut internal se[erti sikap, nilai, motivasi dan kepribadian.
c)         Karakteristik perilaku, pola perilaku, kebiasaan beli da. Karakteristik pengambilan keputusan.
Dengan mengetahui target adopter dengan cara-cara tersebut di atas, memungkinkan perencana pemasaran sosial untuk membuat perkiraan ( prediksi) yang lebih akurat. Perkiraan tersebut, adalah prasyarat kemampuan untuk mempengaruhi hasil. Juga akan berdampak pada keberhasilan program. Fakta ini dapat dilihat dari kasus kelompok religius yang menentang program keluarga berencana.
Kelompok-kelompok yang mempengaruhi langsung terhadap keberhasilan program perubahan sosial :
a.         Kelompok yang memberi bantuan izin, seperti lembaga pengatur perizinan atau yang berwenang secara hukum yang dibutuhkan untuk mendistribusikan program yang akan dijalankan.
b.         Kelompok pendukung, seperti dokter atau staf medis lainnya yang berpartisipasi untuk mendukung kegiatan yang dibutuhkan dalam menyampaikan pelayanan-pelayanan dalam sebuah program distribusi kontrasepsi secara klinis.
c.         Kelompok evaluasi, seperti komite legislatif yang memberi evaluasi akhir. Apakah punya pengaruh yang menguntungkan ataukah merugikan pada program distribusi?
Sebuah program pemasaran sosial yang efektif membutuhkan tentang karakteristik tiap kelompok yang berpengaruh dan memenuhi kebutuhan setiap kelompok dalam suatu strategipemasaran yang tepat.

Proses Pengelolaan Pemasaran Sosial
Pengelolaan pemasaran sosial tidak dikelola hanya oleh departemen pemasaran saja, namun juga dikelola oleh beberapa departemen. Kotler mengusulkan hubungan-hubungan yang harusnya tetap berlangsung antar program dan perencanaan strategis berbagai departemen.
Peranan departemen lainnya, seperti administrasi, keuangan, personalia danasi adalah pendukung tujuan dan strategi pemasaran dalam bentuk pemenuham 4 unsur penting yaitu : dana, perlengkapan dan tenaga kerja.
Proses suatu kegiatan pemasaran sosial berpijak pada analisis lingkungan pemasarannya, penelitian populasi target adopter, pendefinisian problem dan kemungkinan bagi pemecahan permasalahan sosial, merancang strategi, merancang marketing mix, serta pengorganisasian, implementasi, kontrol dan evaluasi terhadap usaha kegiatan pemasaran sosial.
Proses kegiatan Pemasaran sosial :
1)   Menganalisis Lingkungan Pemasaran Sosial
1)Langkah pertama proses pengelolaan pemasaran siosial adalah menganalisis secara dini berkenaan dengan kampanye sosial yang khusus.
2)   Meneliti Populasi Target Adopter
2)Perlu dimengerti target adopter berikut kebutuhan-kebutuhannya. Setiap kelompok memiliki karakteristik tertentu dalam menanggapi kampanye sosial.
3)   Merancang Tujuan Dan Strategi Pemasaran Sosial
3)Tujuan pemasaran sosial haruslah spesifik, terukur (measureable) dan dapat dicapai. Seringkali tujuan tidak diungkapkan secara spesifik, dengan demikian akan sulit untuk diukur, misalnya “peningkatan kesejahteraan anak-anak” atau “peningkatan kualitas hidup”.
4)   Mendisain tujuan program secara spesifik dan terujur, dapat dilihat dalam bagan ini :
4) Dengan memiliki seperangkat tujuan program, harus diputuskan pada tingkat apa pengeluaran anggaran dibutuhkan untuk mencapainya. Pada tahap ini, disebut sebagai upaya penganggaran.
4)
5)   Merencanakan Program Pemasaran Sosial
5)Setelah strategi dirancang, maka harus disiapkan rician program sosial marketing-mix- nya. Elemen-elemen sosial marketing-mix dari media massa harus selektif dan dikembangkan dalam program yang taktis. Maka pertimbangkan hal berikut ini :
5)Pemilihan yang hati-hati terhadap biro iklan
5)Perancangan dan penampilan iklan
5)Seleksi media dan waktu yang tepat
5)Penentuan harga adalah alat pemasaran lainnya yang diperlukan dalam program taktis. Hal ini juga dikaitkan pada biaya yang harus dibebankan kepada target adopter untuk beraksi sekarang juga. Pelbagai variasi program taktis akan berbeda satu sama lainnya sesuai produk sosialnya.
6)   Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengawasan dan Evaluasi
6)Dalam  proses pengaturan pemasaran sosial, lamgkah akhirnya adalah mengorganisasi sumber-sumber daya pemasaran, melaksanakan program sosial marketing-mix, mengontrol kinerja pelaksanaan program serta mengevaluasikan hasil(pengaruhi sosial danetik) dari kegiatan di lapangan. Prinsip manajemen tersebut menekankan bahwa hasil yang terbaik disebabkan oleh perencanakan yang dilksanakan dan diawasi secara efektif.sementara itu pelaksanaan dan pengawasan yang efektif membutuhan data akurat tentang tanggapan kelompok target adopter atas pelaksanaan program pemasaran sosial tersebut.
6)


Sumber :
Cahyowati Diah Tri, M.Si. Dra. 2011. Bentuk Dan Tugas Pemasaran Sosial Sosial. pksm.mercubuana.ac.id.
Pratama S. 2012. Pemasaran Sosial. www.syasapratama.com.

HUBUNGAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN KESEHATAN MENTAL SISWA


(Oleh : Wilmawati Wahyudin : F1D2 10 175)
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari dan juga membutuhkan bantuan orang lain, untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya. Manusia, ketika dilahirkan di dunia sudah membutuhkan bantuan dan
bimbingan dari orang lain, terutama bimbingan dari orang tua. Orang tua mengasuh anaknya supaya menjadi anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal dan normal. Ketika anak tersebut mulai menjadi anak yang dewasa, orang tua memasukkan anaknya ke sekolah. Di sekolah anak tersebut mendapatkan bimbingan dari para guru-guru dalam proses belajar mengajar. Sebagaimana dalam bukunya Hery Noer Aly yang menjelaskan bahwa tugas dari seorang guru adalah “memperhatikan fase perkembangan berpikir murid agar dapat menyampaikan ilmu sesuai dengan kemampuan berpikir murid”.
Pelayanan bimbingan dan konseling yang terdapat di sekolah di Indonesia merupakan layanan yang telah dirintis sejak tahun 1960-an. Mulai tahun 1875 pelayanan bimbingan dan konseling telah resmi memasuki sekolah-sekolah, yaitu dengan dicantumkannya pelayanan
tersebut pada kurikulum 1975 yang berlaku di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, pada jenjang SD, SLTP, dan SLTA. Dan pada tahun 1984 keberadaan bimbingan dan konseling lebih dimantapkan lagi.
Hal ini sesuai dengan beberapa pasal dalam peraturan pemerintah yang bertalian dengan UUSPN 1989 secara ekplisit menyebutkan pelayanan bimbingan di sekolah dan memberikan kedudukan sebagai tenaga pendidik kepada petugas bimbingan. Dalam Petunjuk Pelaksanan Bimbingan dan Konseling, Kurikulum Sekolah Menengah Umum, 1994, dikatakan sebagai berikut: “Berdasarkan Pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 29, 1992, bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.

1.        Pengertian Layanan Bimbingan dan Konseling
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, layanan berasal dari kata .layan yang kata kerjanya adalah melayani yang mempunyai arti membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang; meladeni, menerima (menyambut) ajakan (tantangan, serangan, dsb). Layanan perihal atau cara melayani, meladeni.
Sedangkan pengertian bimbingan secara harfiyyah “Bimbingan” adalah .menunjukkan, memberi jalan, atau menuntun. orang lain ke arah tujuan yang bermanfaat bagi hidupnya di masa kini, dan masa mendatang. Istilah Bimbingan. merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris GUIDANCE yang berasal dari kata kerja “to guide” yang berarti “menunjukan”.

Sedangkan dalam buku W.S Winkel, kata Guidance berasal dari bahasa Inggris yang dikaitkan dengan kata asal guide, yang diartikan sebagai berikut: menunjukkan jalan (showing the way); memimpin (leading); menuntun (conducting); memberikan petunjuk (giving instruction); mengatur (regulating); mengarahkan (governing); memberikan nasihat (giving advice).
Namun, meskipun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntutan adalah bimbingan. Bimbingan yang terdapat dalam sebuah institut merupakan bimbingan yang bersifat moril, yaitu di mana seorang guru dapat memotivasi siswanya agar lebih semangat dalam belajar. Bukan bersifat materil. Misalnya kalau ada siswa yang belum bayaran lalu ia datang kepada guru dan guru memberikan siswa tersebut uang, tentu saja bantuan ini bukan bentuk bantuan yang dimaksudkan dengan pengertian bimbingan. Pengertian bimbingan secara terminologi, menurut Crow & Crow (1960), yang dikutip oleh Prayitno dan Erman Amti bimbingan diartikan sebagai, .Bantuan yang diberikan oleh seseorang, laki-laki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia dalam membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri dan memikul bebannya sendiri.

2.        Pengertian Konseling
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consilium. yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai .menerima. atau .memahami.. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari ‘sellan’ yang berarti ‘menyerahkan’ atau “menyampaikan”.
Sedangkan menurus W.S Winkel secara etimologi konseling berasal dari bahasa Inggris, yaitu Counseling yang dikaitkan dengan kata Counsel, yang diartikan sebagai berikut: nasihat (to obtain counsel); anjuran (to give counsel); pembicaraan (to take counsel).
Konseling secara terminologi menurut Mortense (1964: 301) yang dikutip H. Mohammad Surya adalah, .Konseling sebagai suatu proses antarpribadi, di mana satu orang dibantu oleh satu orang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan, menemukan masalahnya’.
Konseling ditandai oleh adanya hubungan profesional antara konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya dilakukan secara perorangan, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang. Hal ini dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangannya tentang ruang lingkup kehidupan dan untuk belajar mencapai tujuannya.
Menurut Dewa Ketut Sukardi, yang mengutip dari Pepinsky and Pepinsky (1954), Konseling adalah ‘proses interaksi: (a). terjadi antara dua orang individu yang disebut konselor dan klien, (b). terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi (profesional), (c). diciptakan dan dibina sebagai salah satu cara untuk memudahkan terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku klien, sehingga ia memperoleh keputusan yang memuaskan kebutuhannya’.

3.        Hubungan Bimbingan dengan Konseling

Kata bimbingan dan konseling merupakan kata yang tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan, tetapi ada juga pendapat bahwa bimbingan dan konseling merupakan kata yang berbeda. Untuk menjelaskannya penulis menerangkannya dengan menggunakan beberapa pendapat para ahli, yaitu: Menurut Hallen istilah bimbingan selalu dirangkai dengan istilah konseling. Hal ini disebabkan karena bimbingan dan konseling itu merupakan suatu kegiatan yang integral. Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di antara beberapa teknik lainnya. Sedangkan bimbingan itu kebih luas, dan konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.
Pendapat yang sama juga dijelaskan oleh Nana Syaodih Sukmadinata yang menjelaskan bahwa, konseling merupakan salah satu teknik layanan dalam bimbingan, tetapi karena peranannya yang sangat penting, konseling disejajarkan dengan bimbingan. Konseling merupakan teknik bimbingan yang bersifat terapeutik karena yang menjadi sasarannya bukan perubahan tingkah laku, tetapi hal yang lebih mendasar dari itu, yaitu perubahan sikap. Dengan demikian sesungguhnya konseling merupakan suatu upaya untuk mengubah pola hidup seseorang. Untuk mengubah pola hidup seseorang tidak bisa hanya dengan teknik-teknik bimbingan yang bersifat informatif, tetapi perlu teknik yang bersifat terapeutik atau penyembuhan.
Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa antara bimbingan dan konseling merupakan dua pengertian yang berbeda, karena konseling lebih identik dengan psikoterapi, yaitu usaha untuk menolong dan menggarap individu yang mengalami kesukaran dan gangguan psikis yang serius. Sedangkan bimbingan oleh pandangan ini dianggap identik dengan pendidikan.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa antara bimbingan dan konseling mempunyai hubungan yang erat di mana di antara keduanya saling melengkapi dalam membantu klien atau orang lain dalam memecahkan suatu permasalahan dan mengubah pola hidup seseorang. Mengubah pola hidup yang salah menjadi benar, pola hidup yang negatif menjadi positif. Sehingga klien dapat mengarahkan hidup sesuai dengan tujuannya. Karena tugas dari seorang pembimbing atau konselor yaitu memberikan arahan yang baik kepada yang terbimbing. Sesuai dengan firman Allah yaitu:
... dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk
kepada jalan yang lurus. (Q.S Asy Syura: 52)

4.        Tujuan dan Fungsi Bimbingan dan Konseling
1)   Adapun tujuan bimbingan dan konseling menurut Hallen adalah:
a.     Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksudkan agar peserta didi mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri.
b.    Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan dimaksudkan agar peserta mengenal lingkungannya secara obyektif, baik sosial maupun ekonomi.
c.     Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depan dirinya, baik pendidikan, karier maupun bidang budaya, keluarga dan masyarakat.
Menurut H. Prayitno dan Erman Amti bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan umun bimbingan dan konseling membantu individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal sesuai dengan bakat, kemampuan, minat dan nilai-nilai, serta terpecahnya masalahmasalah yang dihadapai individu (klien). Termasuk tujuam umum bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar dapat mandiri dengan ciri-ciri mampu memahami dan menerima dirinya sendiri dan lingkungannya, membuat keputusan dan rencana yang realistik, mengarahkan diri sendiri dengan keputusan dan rencananya itu serta pada akhirnya mewujudkan diri sendiri. Tujuan khusus bimbingan dan konseling langsung terkait pada arah
perkembangan klien dan masalah-masalah yang dihadapi. Tujuan khusus itu merupakan penjabaran tujuan-tujuan umum yang dikaitkan pada permasalahan klien, baik yang menyangkut perkembangan maupun kehidupannya.
2)   Fungsi bimbingan dan konseling menurut Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan adalah:
a.    Pemahaman, yaitu membantu peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).
b.    Preventif (pencegahan), yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik.
c.    Pengembangan, yaitu konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
d.   Perbaikan (penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah
e.     Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan yang sesuai dengan minat, bakat siswa.
f.     Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu (siswa) agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma agama.

KESEHATAN MENTAL
Ilmu kesehatan mental merupakan salah satu cabang termuda dari ilmu jiwa yang tumbuh pada akhir abad ke-19 M dan sudah ada di Jerman sejak tahun 1875 M. pada abad kedua puluh, ilmu ini berkembang dengan pesat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Menurut Yahya Jaya kesehatan mental adalah .terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat.
Menurut Zakiah Daradjat kesehatan mental adalah .terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
Sedangkan menurut Sururin kesehatan mental adalah .kemampuan untuk menyesuaikan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.
Dari pengetian di atas dapat di simpulkan bahwa kesehatan mental yaitu kemampuan seseorang dalam menyesuaikan dirinya baik dengan orang lain serta dengan lingkungannya dan orang tersebut sehat mentalnya dari gejalagejala kejiwaan dan penyakit jiwa.

Prinsip-prinsip Kesehatan Mental.
Secara singkat prinsip-prinsip kesehatan mental tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)    Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
Prinsip ini biasa diistilahkan dengan self image. Prinsip ini antara lain dapat dicapai dengan penerimaan diri, keyakinan diri dan kepercayaan pada diri sendiri. Self Image yang juga disebut dengan citra diri merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan pribadi.
b)   Keterpaduan antara Integrasi diri
Yang dimaksud keterpaduan di sini adalah adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan (falsafah) dalam hidup dan kesanggupan menghadapi stress.
c)    Perwujudan Diri (aktualisasi diri)
Merupakan proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau potensi yang dimiliki, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.
d)   Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat. Untuk dapat penyesuaia diri yang sukses dalam kehidupan, minimal orang harus memiliki kemampuan dan keterampilan, mempunyai hubungan yang erat dengan orang yang mempunyai otoritas dan mempunyai hubungan yang erat dengan teman-teman.
e)    Berminat dalam tugas dan pekerjaan Orang yang menyukai terhadap pekerjaan walaupaun berat maka akan cepat selasai daripada pekerjaan yang ringan tetapi tidak diminatinya.
f)    Pengawasan Diri
Mengadakan pengawasan terhadap hawa nafsu atau dorongan keinginan serta kebutuhan oleh akal pikiran merupakan hal pokok dari kehidupan orang dewasa yang bermental sehat dan kepribadian normal, karena dengan pengawasan tersebut orang mampu membimbing segala tingkah lakunya.


g)   Rasa benar dan Tanggung jawab
Rasa benar dan tanggung jawab penting bagi tingkah laku, karena setiap individu ingin bebas dari rasa dosa, salah dan kecewa. Rasa benar, tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap orang yang sehat mentalnya.

Sumber:
Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999, Cet. II
Arifin, M., Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, Jakarta:
Golden Terayo Press, 1982, Cet. I.
_____, Teori-teori Konseling Umum dan Agama, Jakarta: PT. Golden Terayon
Press, 1996, Cet. III.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT.
Rineke Cipta, 2006, Cet. XIII.
Badriah, 2008. Skripsi Hubungan Layanan Bimbingan Dan Konseling Dengan Kesehatan Mental Siswa Man 12 Duri Kosambi Cengkareng Jakarta Barat. Jakarta
Daradjat, Zakiah, Islam dan Kesehatan Mental, Jakarta: PT. Toko Gunung Agung,
1996, Cet. VIII.
_____, Kesehatan Mental, Jakarta: PT. Toko Gunung Agung, 2001
Sukardi, Dewa Ketut, Pengantar Teori Konseling, Jakarta: Ghalia Indonesia,
1985, Cet. I
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2005, Cet. III